LAPORAN
AKHIR PRAKTIKUM
EKOLOGI
TANAH DAN TANAMAN
OLEH
NAMA :
RAHYUNI
NO.BP :
1310211131
KELAS :
E
ASISTEN :
FIRSTKA DELYNANDRA
MAULANA INSANUL KAMIL

PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ANDALAS
PADANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa dimana atas berkat dan
rahmatNya , sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Akhir
Praktikum Ekologi Tanah dan Tanaman ini.
Laporan
ini disusun ini disusun sebagai tugas akhir dari Praktikum Ekologi Tanah
dan Tanaman yang diberikan oleh Bapak Prof.Dr.Hermansyah MSc. Selaku dosen sekaligus Penangggung Jawab
Praktikum tersebut. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih
kepada Bapak Prof.Dr.Hermansyah MSc yang telah banyak memberikan bantuan
dan pengarahannya selama praktikum ini. Terima kasih juga disampaikan kepada
teman-teman dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
laporanl ini.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan dan masih perlu banyak
perbaikan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan laporan ini, sehingga bermanfaat dalam pelaksanaan
praktikum.
Padang,
29 Mei 2015
Penulis
Rahyuni
DAFTAR ISI
Kata pengantar................................................................................................................................i
Daftar
isi........................................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
.......................................................................................................................1
BAB II Tinjauan
pustaka.................................................................................................................5
BAB III Metode
praktikum...........................................................................................................20
BAB IV Hasil dan
Pembahasan....................................................................................................24
BAB V
Penutup.............................................................................................................................31
LAMPIRAN..................................................................................................................................32
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan tempat tinggal untuk
bermacam-macam binatang kecil yang disebut fauna tanah. Fauna tanah ini melakukan proses pembusukan sisa tanaman sehingga menjadi
unsur hara dan menggali lubang serta terowongan yang menyebabkan terbentuknya
saluran peredaran air dan udara di dalam tanah. Fauna tanah yang sering ditemukan
di dalam atau di atas permukaan tanah adalah
semut, cacing, ular,
kumbang, laba-laba, tikus,
jangkrik, lipan, dan sebagainya. Di
dalam tanah terdapat berbagai
jenis biota tanah,
antara lain mikroba (bakteri,
fungi, aktinomycetes, mikroflora,
dan protozoa) serta
fauna tanah.
Masing-masing
biota tanah mempunyai
fungsi yang khusus.
Dalam kaitannya dengan tanaman,
mikoba berperan dalam membantu pertumbuhan tanaman melalui penyediaan hara
(mikroba penambat N, pelarut P),
membantu penyerapan hara (cendawan
arbuskulura), memacu pertumbuhan
tanaman (penghasil hormon), dan pengendali penyakit hama penyakit
(penghasil antibiotik, antipatogen). Demikian pula fauna tanah, setiap grup
fauna tanah mempunyai fungsi ekologis yang khusus.
Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan,
termasuk juga tanaman kecil
lainnya seperti, lumut,
semak belukar, dan
bunga liar. Ditambah dengan
beberapa jenis burung, serangga, dan binatang lainnya yang menghuni
hutan tersebut. Berjuta-juta
makhluk hidup yang hanya dapat dilihat
dibawah microskop juga menghuni hutan.
Ekosistem hutan sangatlah
kompleks, pohon-pohon dan
tanaman hijau lainnya membutuhkan
sinar matahari untuk memproses makanan yang diambil
dari udara, air
dan mineral dari dalam tanah.
Tanaman memberi makan pada
beberapa binatang tertentu.
Binatang pemakan tumbuhan
ini dimakan oleh binatang pemangsa daging. Tanaman dan
binatang yang mati diurai oleh bakteri dan organisme lainnya
seperti protosoa dan jamur. Proses
ini mengembalikan mineral ke dalam tanah, yang dapat
digunakan lagi oleh tumbuhan untuk berfotosintesis.
Hutan
sangat penting bagi
kehidupan manusia. Manusia jaman
dahulu mencari makan dengan cara berburu dan mengumpulkan tanaman liar
di hutan. Beberapa orang masih tinggal
dan hidup di dalam hutan, menjadi bagian alami dari hutan.
Meskipun manusia telah
membangun pemukiman pedesaan
atau perkotaan tetapi masih sering memasuki hutan untuk berburu atau
mencari kayu.
Pohon
dan kebanyakan dari
tumbuhan lain berakar
pada tanah dan menyerap unsur hara dan air. Daun-daun
yang gugur, ranting, cabang, dan bagianlain
yang tersedia; makanan
untuk sejumlah inang
hewan invertebrata, yang penting seperti rayap, juga untuk jamur
dan bakteri. Unsur hara dikembalikan ke tanah lewat pembusukan dari bagian yang
jatuh dan dengan pencucian dari daun-daun oleh air hujan. Ini merupakan ciri
hutan hujan tropis yang kebanyakan dari gudang unsur hara total ada dalam
tumbuhan secara relatif kecil
Di simpan dalam tanah.
Pengertian
dan definisi dari
hutan sekunder yang
dikemukakan oleh Lamprecht (1986) adalah hutan
yang tumbuh dan
berkembang secara alami sesudah terjadi kerusakan/perubahan
pada hutan yang pertama. Hutan sekunder
merupakan fase pertumbuhan
hutan dari keadaan
tapak gundul, karena
alam ataupun antropogen, sampai
menjadi klimaks kembali.
Beberapa ciri dari hutan sekunder dapat
dilihat dibawah ini :
Komposisi dan struktur tidak saja tergantung tapak namun juga
tergantung pada umur.
Tegakan muda berkomposisi
dan struktur lebih
seragam dibandingkan hutan aslinya.
Tak berisi jenis niagawi. Jenis-jenis yang lunak dan ringan, tidak
awet,kurus, tidak laku.
Persaingan ruangan dan
sinar yang intensif
sering membuat batang bengkok.
Jenis-jenis cepat gerowong. Riap awal besar, lambat laun mengecil.
Karena struktur, komposisi
dan riapnya tidak akan pernah
stabil, sulit merencanakan pemasaran
hasilnya.
Sedangkan
Catterson (1994) mendefinisikan Hutan
Sekunder sebagai suatu bentuk hutan dalam proses suksesi yang mengkolonisasi areal-areal
yang sebelumnya rusak akibat
sebab-sebab alami atau
manusia, dan yang suksesinya tidak
dipengaruhi oleh vegetasi asli di sekitarnya karena luasnya areal yang rusak.
Bentuk-bentuk formasi vegetasi
berikut ini dapat
terbentuk: lahan kosong /padang-padang rumput
buatan / areal areal bekas-tebangan baru
/ areal-areal bekas tebangan yang
lebih tua.
Penggunaan
lahan ialah bagaimana suatu
lahan tersebut dikelaskan berdasarkan aktifitas manusia,
sedangkan penutupan lahan ialah properti alamiah dari lahan tersebut. Penutupan dan penggunaan lahan sama sama
penting dalam bentang lahan. Analisa
lahan (hidrologi, lanskap,
dll) harus menggunakan penutupan lahan dari pada
penggunaan lahan. Tetapi penutupan lahan itu sendiri sering dipengaruhi oleh
penggunaan lahan. Biomassa, dalam
industri produksi energi, merujuk pada bahan biologis yang hidup atau baru mati yang dapat
digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industrial.
Umumnya biomassa merujuk pada materi
tumbuhan yang dipelihara untuk digunakan sebagai biofuel, tapi dapat
juga mencakup materi tumbuhan atau hewan
yang digunakan untuk produksi
serat, bahan kimia, atau panas.
Biomassa dapat pula meliputi
limbah terbiodegradasi yang dapat dibakar sebagai bahan
bakar. Biomassa tidak
mencakup materi organik yang
telah
tertransformasi oleh proses
geologis menjadi zat seperti batu bara atau minyak bumi.
Definisi
dari Bioenergi adalah
energi yang berasal
dari biomassa. Sedangkan pengertian
dari biomassa adalah jumlah bahan hidup yang terdapat di dalam satu atau
beberapa jenis organism yang berada di dalam habitat tertentu. Biomasa pada umumnya dinyatakan
dalam berat kering organisme persatuan luas habitat, yang dinyatakan dalam kg/m2, atau kg/m3.
Biomasa adalah salah satu sumberdaya hayati, merupakan energi matahari yang
telah ditransformasi menjadi energi kimia oleh tumbuhan berhijau daun. Ada yang
mendefinisikan biomassa sebagai
bahan-bahan organik berumur
relatif muda dan berasal dari
tumbuhan atau hewan; produk
& limbah industri
budidaya (pertanian, perkebunan,
kehutanan, peternakan, perikanan).
Vegetasi
merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam arti
luasnya. Pada umumnya, tumbuhan terdiri dari beberapa golongan antara
lain pohon yaitu berupa tegakan dengan ciri-ciri tertentu.
Kemudian dapat diketemukan semak belukar dan lain-lain
tergantung dari ekosistem yang diamati.
Tumbuhan bawah merupakan tumbuhan yang termasuk bukan tegakan atau pohon
namun berada di bawah tegakan atau pohon (Odum, 1993).
Biomassa merupakan ukuran yang berguna dan
mudah diperoleh, tetapi tidak memberikan petunjuk dinamika populasi. Ahli-ahli
ekologi tertarik pada
produktivitas karena bila bobot kering
suatu komunitas dapat ditentukan pada waktu tertentu dan laju
perubahan bobot kering dapat diukur, data itu dapat diubah menjadi perpindahan
energi melalui suatu
ekosistem. Dengan menggunakan
informasi ini ekosistem yang berbeda
dapat dibandingkan dan
efisiensi nisbi untuk perubahan
penyinaran matahari menjadi
bahan organik dapat
dihitung (Indriyanto, 2006).
Hutan merupakan sumber daya alam yang
merupakan suatu ekosistem, di dalam ekosisitem ini, terjadi
hubungan timbal balik
antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan
tempat tumbuh dari
tumbuhan meupakan suatu lingkungan tempat
tumbuh dari tumbuhan
merupakan suatu sistem
yang kompleks, dimana berbagai
faktor saling beinteraksi
dan saling berpengatuh terhadap masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Pertumbuhan dan
perkembangan merupakan suatu respon tumbuhan terhadap faktor lingkungan
dimana tumbuhan tersebut akan memberikan
respon menurut batas
toleransi yang dimiliki
oleh
tumbuhan tersebut terhadap faktor-faktor lingkungan tersebut (Indriyanto,
2006).
Biomassa
tumbuhan bertambah karena
tumbuhan menyerap karbondioksida
(CO2) dari udara dan mengubah zat ini menjadi bahan organik melalui proses
fotosintesis. Berbeda dengan
hewan, tumbuhan membuat makanannya sendiri yang disebut
dengan produktivitas primer yang terbagi atas produktivitas primer bersih dan
produktivitas primer kotor (Heddy, dkk., 1986).
Produktivitas
primer kotor adalah laju total dari
fotosintesis, termasuk bahan
organik yang habis digunakan di dalam respirasi selama waktu pengukuran.
Hal ini
dikenal juga sebagai fotosintesis
total atau asimilasi total.
Sedangkan produktivitas
primer bersih adalah laju penyimpanan bahan
organik di dalam jaringan-jaringan tumbuhan
selama waktu pengukuran.
Jadi kata kunci
dari definisi di atas
adalah laju, dimana
elemen waktu harus
diperhatikan, yakni jumlah energi
waktu yang diikat di dalam waktu tertentu (Heddy, dkk., 1986).
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum
lapangan ekologi tanah dan tanaman ini adalah untuk
mengamati organisme dan biomassa
pada lahan peternakan, lahan kebun teh, lahan DDA,lahan bekas sawah dan hutansekunder,
mengetahui pH dari masing-masing tanah tersebut, mengetahui rasio C/N dari
tanah, mengetahui C organik dan N total
dari Tanah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekologi Tanah dan Tanaman serta Pengelolaan Hara
Ekologi tanah mempelajari hubungan antara biota tanah
dan lingkungan, serta hubungan antara lingkungan serta biota tanah. Secara
berkesinambungan hubungan ini dapat saling menguntungkan satu sama lain, dan
dapat pula merugikan satu sama lain.
Untuk hidupnya, manusia perlu berbagai macam tumbuhan
untuk berbagai keperluannya, begitu pula hewan bahkan mikroorganisme yang
memiliki berbagai fungsi di tubuh manusia. Sementara itu, kebutuhan abiotik pun
juga sangat beragam seperti air, mineral, batu, pasir, tanah, udara, dan
sebagainya. Contoh-contoh tersebut baru menunjukkan hubungan secara langsung.
Hubungan secara tidak langsung akan dapat menunjukkan betapa makhluk hidup
tidak dapat berdiri sendiri dan saling terkait. Sebagai contoh, mikroorganisme
pendekomposisi sampah. Jika mikroorganisme tersebut tidak ada, siklus berbagai
unsur di alam akan terhambat, dan akhirnya akan menimbulkan ketidakseimbangan
ekosistem (Anonimous, 2010).
Kehidupan
di dalam tanah adalah analog dengan kehidupan di atas tanah. Akar, umbi
dan organ-organ lain di bawah tanah adalah bagian-bagian dari produsen
primer. Mereka adalah pemakan dan perombak yang dihubungkan satu dengan
lainnya dengan rantai makanan. Perbedaan utama antara ekologi di atas dan
di bawah tanah adalah bahwa di atas tanah hewan memainkan peran dominan sebagai
pemakan, dan di bawah tanah mikro organisme memainkan peran utama sebagai
perombak.
Binatang
tanah sangat banyak jumlahnya, dan berperan penting dalam perombakan bahan
organik. Nematoda dan white grubs merupakan pemakan utama sebagian besar
makanan pada akar tanaman. Pemakan kedua dan ketiga meliputi
binatang-binatang predator seperti rayap, lipan, laba-laba, semut, dan tikus.
Ketika
daun jatuh ke permukaan tanah mikro organisme dan hewan menyerang daun
tersebut. Lubang yang dibuat pada daun oleh hewan akan memudahkan
masuknya mikroorganisme ke dalam daun. Ketika hewan tanah makan, mikro
organisme akan terikut dan meneruskan fungsinya di dalam saluran pencernaan
hewan. Ekskresi dari hewan diserbu oleh mikroba dan fauna. Hasil
akhir adalah humifikasi dari bahan organik dengan mikro organisme dan fauna
yang memegang peran penting. Dalam proses ini peran terbesar dari hewan
adalah fragmentasi dan pencampuran, yang meningkatkan luas permukaan dan
menyediakan bahan organik untuk mikro organisme. Mikro organisme memiliki
andil yang besar dalam mineralisasi dan peredaran kembali elemen-elemen
mineral.
Siklus
hara adalah pertukaran elemen-elemen unsur hara antara bagian hidup dan tidak
hidup dari ekosistem. Imobilisasi adalah pengambilan ion unsur hara dalam
bahan organik menjadi ion anorganik, terutama oleh bakteri perombak.
Bahan
organik yang ditambahkan ke tanah terdiri dari bermacam-macam komponen seperti
lemak, karbohidrat, dan lignin. Semua kelompok dapat efektif merombak dan
menggunakan karbohidrat dan protein, tetapi jamur lebih efektif dalam
perombakan lignin . sambil mencerna sisa-sisa tanaman, mikroba
menggunakan karbon, energi, dan unsur hara lain untuk pertumbuhannya.
Unsur-unsur hara imobil dimineraslisasikan lagi ketika organisme mati.
Pengaruh netto adalah pembebsan energi atau panas, pembentukkan karbon dioksida
dan air, serta bentuk-bentuk nitrogen sebagai ammonium (NH4+),
sulfur sebagai sulfat (SO4-), fosfor sebagai fosfat (PO42-)
dan beberapa unsur logam sederhana (Ca++, Mg++, K+).
Sebagian besar bentuk-bentuk ini dapat digunakan organisme hidup untuk suatu
siklus pertumbuhan lagi.
Dekomposasi atau pembusukan adalah proses ketika
makhluk-makhluk pembusuk seperti jamur dan mikroorganisme mengurai tumbuhan dan
hewan yang mati dan mendaur ulang material-material serta nutrisi-nutrisi yang
berguna (Anonimous, 2010).
Seresah yaitu tumpukan dedaunan kering, rerantingan,
dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan atau kebun. Serasah
yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga
tanah), dan akhirnya menjadi tanah. Lapisan serasah juga merupakan dunia kecil
di atas tanah, yang menyediakan tempat hidup bagi berbagai makhluk terutama
para dekomposer. Berbagai jenis kumbang tanah, lipan, kaki seribu, cacing
tanah, kapang dan jamur serta bakteri bekerja keras menguraikan bahan-bahan
organik yang menumpuk, sehingga menjadi unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan
kembali oleh makhluk hidup lainnya (Anoniomus, 2009).
Ekologi
tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman
dengan lingkungannya. Tanaman membutuhkan sumberdaya kehidupan dari lingkungannya,
dan mempengaruhi lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ekologi dibagi atas dua bagian yaitu
Sinekologi dan Autekologi.
Ekologi Tanaman tidak dapat
dipisahkan dari ilmu-ilmu lainnya seperti Ilmu Fisika, Kimia maupun Ilmu Bumi
dan Antariksa. Keterkaitan Ilmu Fisika terhadap Ekologi adalah dalam
pengetahuan proses fisika seperti sinar matahari, penghantaran panas dan
sebagainya pada tanah, proses pengaliran air tanah dan sebagainya. Peranan Ilmu
Kimia dalam Ekologi adalah proses kimia pada peredaran hara makro N, P, Ca, Mg,
CO2 dan sebagainya. Ekologi juga dipengaruhi oleh perubahan siang dan malam,
musim dan sebagainya.
Hutan
adalah suatu ekosistem yang bercirikan liputan pohon yang cukupan luas, baik
yang lebat atau kurang lebatan. Menurut FAO (1958) Hutan adalah seluruh lahan
yang berhubungan dengan masyarakat tumbuhan yang didominir oleh pohon-pohon
dari berbagai ukuran, dieksploitasi atau tidak, dapat menghasilkan kayu atau
hasil-hasil hutan lainnya, dapat memberikan pengaruh terhadap iklim atau siklus
air, atau menyediakan perlindungan untuk ternak dan satwa liar. (Departemen
Kehutan Departemen Kehutanan 1989)
Hutan
adalah suatu bidang lahan yang tertutupi oleh pohon-pohon yang dapat membentuk
keadaan iklim tegakan (iklim mikro di dalam hutan), termasuk bagian bidang
lahan bekas tebangan melalui tebang habis, di dalam wilayah hutan tetap pada
tanah negara atau tanah milik, yang setelah pemanenan (penebangan) terhadap
tegakan hutan yang terdahulu, dilakukan pembuatan dan pemeliharaan permudaan
alam atau penghutanan kembali.
Hutan
memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan. Manfaat hutan tersebut diperoleh
apabila hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal.
Fungsi-fungsi ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan
nyata apabila pengelolaan sumberdaya alam berupa hutan seiring dengan upaya
pelestarian guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh
- tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada
suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi
yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun
dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh
serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi,
tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai
keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan
vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi
hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan
keadaan habitatnya. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan
dan bentuk vegetasi.
Analisis
vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi
secara bentuk (struktur) vegetasi dari :nasyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur
struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk.
Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan
tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan
tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif
tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Greig-Smith, 1983).
Analisis
vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi dapat
digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan: 1) Mempelajari tegakan hutan, yaitu pohon dan permudaannya. 2)
Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu
jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan
pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Siklus unsur hara pada ekosistem
hutan adalah merupakan suatu kajian yang
penting dan menarik karena hutan dengan ekosistemnya yang komplek sangat berperan
penting dalam global biogeokimia (Hermansah, 2003). Proses siklus unsur hara dalam
ekosistem hutan sangat penting dalam mempelajari fungsi dan evolusi
dari ekosistem hutan. Siklus dari pada unsur hara
di dalam ekosistem hutan adalah merupakan suatu set
proses yang
terpadu meliputi pemindahan energi dan hara didalam ekosistem sendiri maupun antar ekosistem antara atmosfir, biosfir, geosfir dan hidrosfir. Energi yang
diperlukan untuk menggerakkan siklus ini di peroleh dari proses yang
terjadi di biosfir yakni proses fotosintesis. Baik secara lansung maupun tidak lansung
fotosintesis merupakan inti dalam pengadaan energi bagi semua kehidupakn
di biosfir. Untuk mempertahankan rekasi biokimia yang
diperlukan oleh tumbuhan-tumbuhan sekurang- kurangnya 14 hara yang mutlak
diperlukan oleh tumbuhan harus
terpenuhi.
Unsur-unsur hara
ini di ambil oleh
tumbuhan dari dalam tanah melalui serapan
haranya dan kemudian diakumulasi dalam jaringan tumbuhan dan kembali
lagi ke tanah
baik lansung atau tidak lansung
sebagai bahan organik. Bahan organik ini merupakan
sumber energi bagi heterotrof yang dioksidasikannya melalui proses
dekomposisi.
Secara simultan unsur hara akan kemabli ke
tanah.
Proses dari
serapan hara, akumulasi hara
pada tubuh tumbuhan dan kembali ke tanah melalui siklus yang bervarisi sesuai dengan kondisi tumbuhan, iklim dan jenis tanahnya sendiri.
Dekomposisi Bahan Organik
Dekomposisi adalah mata
rantai utama bagi pengembalian bahan organik dan
unsur hara dari vegetasi ke tanah (Bray dan Gorhan, 1964;Herera, Jordan, Klinge, dan
Median, 1978; Cuevas dan Medina, 1998 cit Aflizar, 2003). Runtuhan biomasa seperti
daun dan bagian tanaman lain yang jatuh sedikit demi sedikit terkumpul
di tanah hutan sampai proses dekomposisi dimulai. Pada mulanya tumpukan serasah mungkin melebihi
dekomposisi yang terjadi, tapi cepat atau lambat
keseimbangan akan
tercapai antara
penambahan serasah tahunan dan tingkat dekomposisi tahunan (Spurr, 1980). Tingkat
hilangnya serasah lebih cepat pada
awal proses, kemudian lama
kelamaan semakin
menurun (Anderson et al, 1983;
Swift dan Anderson, 1989; Kumar dan Deepu, 1992; Jamaan
dan Nair, 1996 cit. Sundarapardian,
1999).
Bahan organik didalam tanah merupakan sumber energi dan sumber
karbon untuk pertumbuhan sel-sel
baru
mikrobia.
Akibat perombakan tersebut selain energi yang diperoleh mikroba, juga dilepaskan senyawa-senyawa seperti CO2,
CH4, asam-asam
organik dan alkohol. Selama asimilasi C untuk pertumbuhan sel terjadi juga penyerapan
(immobilisasi) unsur-unsur lain
seperti N, P, K dan S oleh mikro (Soedarsono, 1981).
Bahan organik
tanah yang sudah
tertimbun adalah
merupakan sasaran
penyerangan hebat oleh organisme
tanah, yaitu tumbuhan dan hewan yang menggunakan sumber
energi dan bahan pembentuk jaringannya dari
bahan organik (karbon). Mengingat sumber karbon utama didalam tanah adalah bahan organik, maka
besarnya
dekomposisi bahan organik
didalam
tanah tergantung dari banyaknya bahan organik itu sendiri.
Hal ini jelaslah bahwa
penambahan bahan organik akan mempertinggi evolusi CO2. Dengan kata lain kecepatan dekomposisi
bahan
organik tergantung dari kadar
bahan organik itu
sendiri. Tanaman yang muda dan
sisa-sisa tanaman yang rasio
C/N-nya rendah
cenderung
terdekomposisi lebih cepat dibandingkan dengan bahan-bahan oragnik atau
bahan sisa
yahg mengandung lignin (Suedarsono, 1981).
Tanner (1981 cit. Sundarapardian, 1991) menyatakan bahwa
2-96 % dari proses dekomposisi tergantung dari
kandungan N
dan P daun. Sundarapardian (1999) juga menyatakan bahwa pada spesies tanaman dengan kandungan N yang
tinggi menunjukkan proses dekomposisinya lebih cepat, kecuali pada beberapa spesies tertentu. Lebih lanjut Suedarsono
(1981) menjelaskan bahwa
N merupakan unsur
utama bagi pertumbuhan mikroorganisme, maka untuk mendekomposisi bahan organik yang akan disintesa
sebagi penyususn sel selalu diperlukan
sejumlah N (artinya diperlukan
C/N ratio tertentu dan untuk
mikrobia ratio tersebut adalah 10:1). Mengingat bahan organik yang jatuh keatas tanah mempunyai C/N yang sangat bervariasi, maka kecepatan dekomposisi juga sangat dipengaruhi
oleh kadar N didalam
bahan tersebut.
Morfologi bahan yang akan mengalami proses dekomposisi juga mempengaruhi proses dekomposisi. Sundarapardian (1999) menyatakan bahwa
daun engan cirri
morfologi kurus dan licin tanpa kerangka tulang yang menonjol
dapat di dekomposisi dengan cepat, sedangkan pada daun yang
tebal dan keras dengan tulang tengah daun yang
menonjol dan barik-barik membutuhkan waktu yang
panjang untuk didekomposisi
(Sundarapardina, 1999).
Proses
dekomposisi
dari bahan organik
tergantung dari macamnya
mikroorganisme dan kelembaban. Kecepatan dekomposisi
yang bervariasi mulai dari
bawah titik layu sampai pada kelembaban yang jenuh (Soedarsono, 1981). Kumar dan Deep (1992 cit. Sundarapardian, 1999) menyatakan bahwa hutan yang pohonnya menggugurkan daunnya sepanjang tahun di daerah tropik memperlihatkan tingginya
tingkat pembusukan yang
mencolok sekali dibandingkan dengan spesies hutan di daerah temperate. Perbedaan temperatur dan kelembaban akan berpengaruh terhadap penyebaran populasi dan aktivitas
mikroorganisme.
2.2 Metode Pengambilan Sampel Organisme di Lapangan
Beberapa metode pengambilan sampel
organisme di lapangan yaitu metode pitfall trap, metode hand sorting,metode
baited trap,metode sweeping net,metode yellow pan trap. Masing-masing dari
metode tersebut akan di jelaskan sebagai berikut:
1. Metode pitfall trap
Metode pitfall trap dilakukan dengan cara pembuatan
lubang perangkap dengan menggali tanah menggunakan sekop kecil seukuran gelas
plastik. Gelas plastik diletakkan ke dalam lubang sehingga permukaan atas gelas
sejajar dengan permukaan tanah. Kemudian gelas diisi dengan air detergen
(1/3 dari isi gelas) dan dibiarkan
selama 24 jam. Tutup alat di pasang sekitar 2-3 cmdiatas permukaan jebakan.
Setelah 24 jam larutan yang berisi organisme dimasukkan ke dalam botol sampel
dan diberi label. Metode pitfall trap ini dilakukan untuk menjebak serangga
Orthoptera yang merayap diatas tanah seperti famili Blattidae,Gryllidae,Gryllacrididae.
2. Metode Hand sorting
Metode hand sorting dilakukan secara manual yaitu
dengan mengambil secara langsung organisme yang ada di tanah sampel yang
diambil, berukuran 25x25 cm dan kedalaman 10 cm, dan dihitung berapa
populasinya. Kemudian cacing dimasukkan kedalam wadah yang berisi alkohol
selama beberapa hari agar organisme mati dan kaku.
3. Perangkap
kuning (Yellow pan trap)
Jebakan
ini didasari sifat serangga yang menyukai warna kuning mencolok. Sebab warna
itu mirip warna kelopak bunga yang sedang mekar sempurna. Permukaannya dilumuri
lem sehingga serangga yang hinggap akan merekat sampai akhirnya mati. Umumnya
seranga yang dapat terjebak adalah hama golongan apid, kutu, dan tungau yang
kemudian dijadikan indikator populasi hama sekitar. Biasanya jebakan ini
disebut dengan yellow sticky trap.
4. Lampu
/ Light trap
Serangga
nokturnal menjadikan cahaya dominan di suatu tempat sebagai panduan utama.
Mereka akan terbang mendekat begitu melihat cahaya, baik berasal dari lampu
menyala ataupun api. Pada saat terbang mengitari lampu itulah mereka membentuk
generasi baru.
Hama
dari golongan serangga di kebun juga mempunyai sifat yang sama, sehingga
pekebun membuat perangkap lampu. Serangga akan terbang mengitarinya hingga
akhirnya jatuh dan masuk ke dalam jebakan beridi air atau lem yang ada di bawah
lampu. Umumnya hama yang terperangkap adalah golongan aphid, ngengat, atau
coleoptera.
5. Feromon
Jebakan
tersebut dibuat dengan memanfaatkan kebutuhan komunikasi serangga pengganggu
tanaman. Komunikasi itu dilakukan dengan hormon bernama feromon. Hal ini
berguna untuk menunjukkan adanya makanan, memikat pejantan, menandai jejak,
membatasi wilayah teritorial, atau memisahkan kelas serangga antara serangga
pekerja, tentara dan ratu. Feromon yang umum digunakan adalah feromon untuk
menarik pasangan dari hama.
Zat
yang berbau seperti feromon betina disebut atraktan yang dipasang pada
perangkap yang diletakkan di kebun. Serangga jantan akan tertarik dan masuk ke
dalam perangkap yang telah diberi air atau lem. Makhluk yang akhirnya masuk ke
dalam jebakan umumnya kana tetap disana hingga mati (Majalah Trubus.2011).
6. Aerial
bait trap
Perangkap
jenis ini berukuran relatif kecil, dan biasanya terbuat dari dua buah stoples
plastik yang berdiameter 15 cm dengan bagian tutup berulir. Kedua stoples
tersebut diletakkan berhadapan pada bagian mulutnya, satu diatas yang lain.
Tutup stoples tersebut diberi lubang besar. Pada bagian dalam akan diletakkan
corong yang dibuat dari kawat kasa. Bagian dasar dari stoples yang atas diberi
ventilasi untuk mencegah kondensasi dan membiarkan serangga yang terperangkap
akan tetap hidup.
Serangga yang tertarik dengan umpan
akan masuk melalui lubang pada stoples bagian bawah. Sesuai dengan perilaku
serangga, setelah makan mereka akan terbang dan berjalan ke stoples atas
melalui corongg kawat kasa dan tidak bisa lagi keluar.
Serangga
yang tertangkap dipindahkan ke botol lain. Perangkap ini diletakkan dengan cara
menggantungkannya di atas sebuah tiang atau tanaman. Pada bagian penggantung
diberikan zat penolak (repellan)
untuk mencegah semut (Jumar, 2000).
7. Metode
Baited Trap
Metode
baited Trap yaitu metode pengambilan sampel dengan menggunakan umpan tertentu,
misalnya umpan kotoran mamalia. Kotoran mamalia dibungkus dengan kain kasa
sebesar ibu jari,kemudian diikat pada bambu dan digantung dengan gelas plastik
yang berisi larutan garam dan air sabun untuk membunuh organisme yang masuk
dalam perangkap. Posisi peletakan umpan dibagi menjadi 4 tempat yang mengikuti
arah mata angin pada terbuka hijau, misalnya di barat,timur,utara dan selatan,
setiap perangkap diletakkan secara acak dan setiap umpan berjarak 5 meter.
Perangkap dibiarkan selama 5 hari dan dilakukan sebanyak 6 kali. Pada saat
pemasangan perangkap dilakukan pengukuran fakor fisik yaitu: suhu kelembaban
udara,kecepatan angin, dan intensitas cahaya, dengan alat ukur termometer,
higrometer, anemometer dan luxmeter.
Organisme
yang masuk kedalam perangkap dimasukkan kedalam kantung plastik beserta cairan
dalam plastik. Selanjutnya di pindahkan kedalam botol film yang berisi alkohol
70% untuk pengawetan organisme, selanjutnya diidentiifikasi.
8. Metode
Core sampel
Teknik sampling yang
lain adalah menggunakan core sampler untuk
mengoleksi serangga yang ada di dalam tanah. Core sampler berdiameter 5
cm.
Sampel tanah diambil menggunakan core sampler pada kedalaman 5 cm pada
masing-masing kuadran. Sampel tanah diambil sebanyak tiga
kali
ulangan per kuadran
dan dimasukkan dalam kantung
kain.
Selama pengangkutan
menuju laboratorium sampel tanah perlu diperlakukan
secara
hati-hati agar terhindar dari hujan dan panas.
Sesampainya di laboratorium sampel tanah di timbang dahulu,
kemudian diproses dengan corong
Barlese Tullgren yang dimodifikasi. Seluruh spesimen yang
diperoleh dari pit fall trap maupun core sampler disimpan dalam botol film berisi alkohol
70% untuk selanjutnya dilakukan enumerasi dan identifikasi.
9. Metode
Sweeping Net
Merupakan
metode yang umum yang digunakan untuk menyampling serangga pada vegetasi.
Metode ini adalah metode yang paling sedehana dan cepat. Namun metode ini tidak
efektif digunakan pada vegetasi yang terlalu pendek dan vegetasi yang tinggi
seperti pohon.
Sweeping
net dilakukan pada vegetasi herba yang rendah,semak-semak dan rerumputan.
Metode ini dilakukan sepanjang transek untuk mencuplik serangga Orthoptera
peloncat seperti famili Acrididae,Tettigonidae, dan Tetrigidae.
2.3
C Organik, N Total, Rasio C/N dan pH Tanah
Tanah memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik dan
biologi tanah dapat dilihat secara kasat mata dan diteliti dengan warna tanah, tekstur tanah, kepadatan
tanah,dan
lain-lain. Sifat kimia
tanah mengacu pada sifat dasar tanah yang memiliki
derajat keasaman tanah atau pH yang berbeda-beda,
pemupukan yang dilakukan oleh manusia dan kandungan organik serta mineral di
dalam tanah itu sendiri. Sifat kimia tanah berperan besar dalam menentukan sifat
dasar inilah kemudian dapat
diteliti bagaimana memperlakukan dan
pembubidayaan
tanah (Anonim,2011).
Beberapa sifat kimia yang
digunakan sebagai parameter dalam penelitian
ini adalah pH
tanah, karbon tanah, nitrogen, C/N fosfat tersedia
tanah. Beberapa sifat
kimia tanah dapat menilai apakah
suatu tanah merupakan
tanah yang
potensial atau tidak
( Hanafiah, 2005).
Bahan organik adalah semua bahan organik di dalam tanah baik yang mati
maupun yang
hidup,walaupun organisme hidup (biomassa tanah) hanya menyumbang
kurang dari 5% dari total bahan organik. Jumlah dan sifat bahan organik sangat menentukan
sifat biokimia, fisika, kesuburan
tanah dan membantu menetapkan
arah proses pembentukan
tanah. Bahan organik
menentukan komposisi dan mobilitas kation yang
terjerap, warna tanah, keseimbangan panas,
konsistensi, kerapatan partikel, kerapatan isi, sumber
hara, pemantap agregat, karakteristik
air,
dan aktifitas
organisme tanah ( Mukhlis, 2007).
·
Kemasaman (pH) Tanah
Reaksi
tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang
dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion
hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula
ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. pada tanah-
tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH-, maka
tanah
bereaksi
netral
yaitu
mempunyai
pH
=
7
(Anonim 1991).
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan
Tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), potassium/kalium (K), dan
Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang,
dan
bertahan
terhadap penyakit (Anonim, 2010).
Konsentrasi Alumunium
dan besi (Fe) yang tinggi pada tanah memungkinkan terjadinya
ikatan terhadap fosfor dalam bentuk alumunium fosfat
atau
Fe-fosfat.
P yang terikat
oleh alumunium tidak dapat
digunakan oleh
tanaman
makanan ternak. Tanaman
makanan
ternak yang
ditanam pada
tanah yang
memiliki pH rendah biasanya juga menunjukkan klorosis (peleburan klorofil sehingga daun berwarna pucat) akibat kekurangan nitrogen atau kekurangan
magnesium.
Selain itu pH
tanah rendah
memungkinkan terjadinya hambatan
terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang
bermanfaat bagi proses mineralisasi
unsur hara seperti N dan P dan mikroorganisme yang berpengaruh pada
pertumbuhan tanaman, misalnya bakteri tanah yang dapat bersimbiosis degan
leguminosa seperti Rhizobium atau bersimbiosis dengan tanaman non leguminosa
Seperti Frankia
sehingga
sering dijumpai
daun-daun tanaman
makanan
ternak pada tanah asam mengalami chlorosis akibat kekurangan N ( Nyakpa,dkk, 1998).
Di
Indonesia pH tanah umumnya berkisar 3-9 tetapi untuk daerah rawa
seeperti tanah gambut ditemukan pH dibawah 3 karena banyak mengandung asam
sulfat sedangakan di daerah kering
atau daerah dekat pantai pH tanah dapat mencapai di atas 9 karena banyak mengandung garam
natrium
(Mas’ud, 1992).
·
C-organik
Dengan fotosintesis, tanaman mengumpulkan karbon yang ada di atmosfir
yang kadarnya sangat rendah, ditambah air yang diubah menjadi bahan organik oleh klorofil dengan bantuan sinar matahari. Unsur yang diserap untuk
pertumbuhan dan metabolisme
tanaman dinamakan hara
tanaman. Mekanisme
perubahan unsur hara menjadi senyawa
organik atau energi disebut metabolsime (Kaptan
ADB,
2011).
Salah satu peranan bahan organik yang
penting
adalah kemampuanya bereaksi dengan ion logam untuk membentuk senyawa kompleks. Dengan demikian ion logam yang bersifat meracuni tanaman serta merugikan penyediaan hara
pada
tanah seperti Al, Fe dan Mn dapat diperkecil dengan adanya bahan organik. Karakteristik
bahan organik tanah dapat dilakukan secara
sederhana. Contoh
secara kimia berdasarkan dari kadar C-organik
(Suridikarta,
dkk, 2002).
Analisis
N total tanah didasari oleh prinsip
mengubah N-organik menjadi
N-ammonium oleh asam sulfat yang dipanaskan sekitar 3800C
dan menggunakan
Cu-sulfat +
selenium + Na-sulfat sebagai katalisator. Proses ini disebut digestasi dan hasilnya
disebut digest; secara
keseluruhan disebut kjeldahl digestasi. Asam digest yang mengandung
ammonium dibasakan dengan NaOH sehingga ion
ammonium dikonversi menjadi amoniak. Lalu didestilasi menjadi ammonium hidroksida. NH4OH ditentukan jumlahnya dengan mentitrasi dengan HCl
(Foth,1994).
Total N tanah (organik utama) umumnya diukur setelah didigestasi menggunakan
prosedur kjeldahl.
Total bahan organik N (NH4+, NO3-, dan NO2-) biasanya dideterminasi dengan destilasi menggunakan ekstrak tanah 2 M KCl.
Dan
setelah didestilasi, N-NO3- bisa dideterminasi dengan sebuah prosedur asam kromotropik (Tisdale,
dkk.1985).
·
Rasio C/N
Laju
dekomposisi sisa tanaman
sangat dipengaruhi oleh
kandungan nitrogen dalam jaringan tanaman dimana senyawa protein yang kaya nitrogen akan mudah
terdekomposisi.
Protein akan
terdekomposisi membentuk asam amino. Laju metabolisme yang
menggunakan asam amino tergantung pada rasio
C:N
dalam jaringan tanaman. Jika rasio C:N yang tersedia lebih besar dari 25,
semua asam amino akan dimanfaatkan oleh dekomposer, dan asam amino akan
dimineralisasi membentuk
amoniak, dan kemudian
amoniak akan
ternitrifikasi
membentuk nitrat (Barchia, 2009).
Perbandingan C:N sangat menentukan apakah bahan organik akan termineralisasi atau sebaliknya nitrogen yang tersedia akan terimmobilisasi ke dalam struktur
sel mikroorganisme. Karena
C:N
rasio pada tanah relatif konstan
maka ketika residu tanaman ditambahkan ke dalam tanah yang memiliki
C:N rasio relatif besar, residu tanaman akan terdekomposisi dan meningkatkan evolusi CO2 ke atmosfer, dan sebaliknya akan terjadi depresi pada
nitrat tanah karena immobilisasi oleh kimia. Pada lahan ini pada umumnya mempunyai C:N rasio lebih tinggi bila dibanding C:N rasio pada lahan yang diubah menjadi agroekosistem. Tingginya rasio C:N
pada lahan ini mencerminkan
kualitas
substrat yang
terurai relatif rendah, karena kualitas substrat yang rendah mencerminkan laju respirasi yang
rendah pula. Rendahnya laju pelepasan karbon
pada lahan ini dibanding pada alang-alang
ini disebabkan bahwa tingginya rasio C:N pada
lahan hutan berkisar 13 – 16, sementara pada lahan alang-alang 5 tahun
berkisar 9 – 11, dan alang-alang > 10 tahun berkisar 10 – 13. Hubungan antara
C:N rasio
dengan
laju
pelepasan karbon dalam bentuk
CO2 melalui persamaan
regresi memiliki nilai r2 = 0.78 nyata (Anonim,2009).
·
Fosfat Tersedia
Tanah
Secara
umum,
fungsi dari
P
dalam
tanaman
dapat
dinyatakan sebagai berikut :1. Dapat mempercepat pertumbuhan
tanaman
2.
Dapat mempercepat perkembangan
dan pemasakan
buah, dan
3. Dapat meningkatkan produksi
biji-bijian.
Defisiensi
unsur
hara
P
akan
menimbulkan
hambatan
pada
pertumbuhan sistem
perakaran,
daun dan
batang.
Dalam tanah fungsi
P
terhadap tanaman.
Kesetimbangan
ion-ion ini dalam larutan
tanah
dikendvalikan oleh pH tanah (Mas’ud, 1992). Sebagai tambahan pada
pH tanah dan faktor-faktor yang ada hubungannya, bahan organik dan mikroorganisme mempengaruhi tersedianya
fosfor anorganik yang tampak nyata sekali
(Buckman and
Brady,
1982).
Pada pH tanah yang kurang 6,5 akan banyak Al, dan
Mn
yang akan
mengikat P dalam
tanah, reaksinya adalah sebagai berikut
:
tidak larut
Cara
mengurangi fiksasi fosfor di dalam tanah dapat dilakukan antara
lain
sebagai
berikut
:
(a)
Mengatur pH yaitu dengan
pengapuran
(b)
Pemberian bahan organik, pemberian ini akan menghasilkan anion dan
kation yang
akan
mengurangi
fiksasi
(c)
Mengurangi
kontak langsung antara
pupuk
dengan tanah
(Sutedjo
dan Kartasapoetra, 1997).
Ketersediaan fosfor tanah untuk tanaman terutama sangat dipengaruhi oleh sifat
dan cirri tanahnya sendiri. Pada ultisol
tidak
tersedia dan
tidak larutnya fosfor disebabkan fiksasi oleh
mineral-mineral liat
dan
ion-ion Al, Fe, yang membentuk senyawa kompleks dan tidak larut.
Ada
beberapa faktor yang turut mempengaruhi ketersediaan fosfor tanah yaitu: (1) tipe liat, (2) pH tanah, (3) waktu reaksi, (4) temperatur (5) dan bahan organik.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum
Ekologi Tanah dan Tanaman dilaksanakan pada hari Sabtu 21 Maret 2015 bertempat
di lahan dasar-dasar agronomi, kebun percobaan, Universitas
Andalas. Serta pengamatan Laboratorium di Laboratorim Fisika Tanah Fakultas
Pertanian Universitas Andalas, Padang.
3.2 Alat dan
Bahan
Peralatan
yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: pisau, cangkul, mal,kayu, tali
plastik, plastik sampel, ring tanah, oven, loupe,
gelas piala, kain kasa, kamera digital, ayakan, corong, timbangan analitik,
bola lampu, buku identifikasi fauna tanah dan alat tulis menulis. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70%.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi lapang, metode Hand Sorting dan metode Barlese Tulgreen dan
pengamatan di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas Pertanian, Unand.
3.4 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah
makrofauna tanah dan biomassa pada vegetasi semak dan vegetasi lahan agronomi, kebun percobaan, Universitas Andalas, Padang. Pengukuran pH, C Organik, N Total, dan Rasio C/N
3.5 Cara Kerja
3.5.1. Pengambilan Biomassa di lapangan
Tentukan
terlebih dahulu lokasi untuk pengambilan sampel. Petak lokasi berukuran 10 x 10
m yang dibatasi dengan tali plastik pada vegetasi lahan dasar-dasar agronomi. Dalam petak lokasi ukur permukaan tanah dengan
panjang dan lebar 1x1 m (posisi
dipilih sendiri) kemudian beri tanda dengan menancapkan beberapa kayu pada
empat sisinya untuk mempertegas batas petak sampel dalam petak lokasi. Kumpulkan
semua biomassa dari tanaman yang berada didalam petak sampel tersebut kedalam
plastik sampel. Beri label masing- masing plastik dengan nama plot 1 dan plot 2
untuk vegetasi lahan dasar-dasar
agronomi.
3.5.2 Pengambilan Sampel Tanah di Lapangan
Pada petak
sampel yang sama tempat pengambilan biomassa, dilakukan juga pengambilan sampel
tanah. Pengambilan sampel tanah ini dilakukan dengan menggunakan mal yang
dibenamkan kedalam tanah hingga permukaan atas mal sama datar
dengan permukaan tanah. Kemudian ambil sampel tanah tersebut dengan cara
menggali pinggiran mal dengan pisau sampai batas bawah mal dan potong
bagian bawah dengan pisau tajam sehingga sampel tanah yang didapat berbentuk
balok atau batangan. Masukan sampel tanah kedalam plastik sampel dan beri label
masing-masingnya.
3.5.3 Pemisahan Kategori Dekomposisi Biomassa di
Laboratorium
Selanjutnya
sampel biomassa atau serasah dibawa ke Laboratorium untuk dilakukan pemisahan
kategori dekomposisi. Terdapat 3 kategori dekomposisi yaitu (1) fresh litter
merupakan daun,batang,bunga tanaman yang masih dalam keadaan utuh atau sedikit
terpecah. (2) Terfermentasi yaitu serasah telah memecah
menjadi komponen – komponen yang lebih kecil ukurannya dan melapuk. (3) Humifikasi
yaitu serasah yang hampir terurai sempurna dan menyatu dengan tanah. Serasah
yang lolos ayakan merupakan kategori terhumifikasi sedangkan yang tidak adalah
kategori terfemntasi. Sedangkan untuk kategori fresh litter dapat dilih secara
langsung. Kemudian masing- masing kategori ditimbang menggunakan timbangan
analitik.
3.5.4. Identifikasi Fauna Tanah di
Laboratorium
Cara kerjanya timbang sampel tanah yang telah diambil di lapangan untuk
mengetahui berapa beratnya, lalu masukkan kedalam sebuah corong tetapi
sebelumnya sampel tanah tersebut telah dihancurkan menjadi gumpalan- gumpalan
tanah yang berukuran kecil agar muat didalam corong. Letakkan gelas piala
berukuran 100 ml dibagian bawah corong (bagian yang lancip) yang telah diisi
dengan lebih kurang 25 ml etanol. Gelas piala digunakan sebagai penampung
makrofauna tanah yang jatuh/keluar lewat bawah corong. Tempatkan corong serta
gelas piala tersebut dibawah sinar lampu neon 100 watt. Letakkan lampu neon ± 2
cm diatas corong. Lakukan pemanasan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan untuk
pengamatan dalam praktikum ini.
Selanjutnya lakukan identifikasi terhadap jenis dan jumlah makrofauna yang
turun
/jatuh dari corong kedalam cairan
etanol didalam gelas piala.
3.5.5 mengukur pH tanah
Adapun cara kerja yang dilakukan
pada pengukuran pH ini adalah sampel tanah ditimbang sebanayak 10 gr lalu
dimasukkan kedalam botol film dan ditambahkan aquades sebanyak 30 ml. Kemudian
disacker selama 30 menit dan diberi label. Selanjutnya diukur pH dengan
menggunakan pHmeter.
3.5.6
Penetapan C organik
Untuk pembuatan larutan standart : cara kerja yang dilakukan
adalah Sukrosa yang telah dioven
ditimbang sebanyak 29,68 gr lalu dilarutkan didalam labu ukur hingga volume 200
ml. Kemudian dipipet sebanyak 5, 10, 15, 20, 25 lalu dimasukkan kedalam labu
ukur 100 ml. Selanjutnya masing-masing labu ukur tersebut, ditambahkan 10 ml K2Cr2O7
1 N. Setelah itu, ditamabahkan 20 ml H2SO4 dan didiamkan
selama 30 menit serta dicukupkan hingga 100 ml dengan BaCl2 0,5 %.
Terakhir diukur absorban dengan panjang gelombang 4,5 dan 6.
Untuk penetepan C-Organik: cara
kerja yang dilakukan adalah larutan sukrosa ditimbang sebanayak 0,5 gr dan
ditambahkan sampel tanah 5 gr lalu ditambahkan 10 ml K2Cr2O7
1 N dan 20 ml H2SO4 dan dicukupkan hingga 100 ml BaCl2
0,5 %. Kemudian didiamkan selama semalam lalu diukur dengan rumus:
%C = mg C Kurva/mg sampel x 100 % x
KKA
3.5.7
Penetapan N total
Tahapan destruksi: cara kerja yang dilakukan adalah sampel
tanah ditimbang sebanyak 0,5 gr dan ditambahkan campuran cellent serta
ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 5 ml. Kemudian
dipanaskan hingga larutan berwarna putih susu.
Tahapan destilasi: Selanjutnya
sampel tersebut didinginkan dan ditambahkan 50 ml aquades. Sementara didalam
Erlenmeyer dimasukkan 15 ml H3BO3 4 % dan ditambahkan 3
tetes indicator Conway didalam labu sampai warnanya berubah menjadi hijau
kebiruan.
Tahapan titrasi: setelah warnyanya
hijau kebiruan dititrasi dengan H2SO4 0,1N sampai
warnanya berubah menjadi pink. Kemudian dihitung berapa banyak H2SO4
yang digunakan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1 Pengamatan Makrofauna
Tanah

4.1.2 Berat Serasah dan
Vegetasi

4.1.3 C Organik, N Total,
Rasio C/N dan pH Tanah

4.2 Pembahasan
Dari table organisme tanah dapat dilihat bahwa
organisme yang paling banyak berturut-turut terdapat pada lahan peternakan,
lahan DDA,alang-alang, lahan bekas sawah, dan hutan sekunder. Organisme yang
mendominasi yaitu cacing, semut dan kutu. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan
organisme tanah sangat bergantung pada faktor
lingkungan. Suin (1997) menjelaskan bahwa fauna tanah sangat ditentukan/
bergantung pada habitatnya karena keberadaan dan kepadatan populasi dari suatu
jenis fauna tanah disuatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah
tersebut. Dengan kata lain keberadaan dan kepadatan populasi dari suatu jenis
fauna tanah disuatu daerah sangat tergantung dari faktor
lingkungan. Dimana salah satu faktor tersebut adalah kandungan bahan organik
tanah.
Suin (1997) menyatakan bahwa salah satu faktor yang
menetukan kepadatan organisme tanah adalah materi atau bahan organik. Materi
organik tanah merupakan sisa-sisa tumbuhan, hewan organisme tanah, baik yang
telah terdekompisisi maupun yang sedang terdekomposisi. Dari Tabel 2. Data hasil
pengambilan biomassa serasah dan
vegetasi dapat dilihat bahwa total massa vegetasi dan serasah pada lahan
peternakan 294,3 g, hutan sekunder 134,9 g, alang-alang 770,5 g, lahan DDA 7,75
g, kebun teh 254,7 g, dan lahan bekas sawah 9 g. pada lahan DDA didapatkan
hanya 7,75 g karena yang diambil hanya serasah,vegetasi tidak diambil karena
lahan tersebut merupakan lahan praktikum Dasar-dasar agronomi sehingga tidak
boleh di ganggu, sedangkan pada lahan bekas sawah yang diambil hanya berat dari
1 tanaman jagung, sedangkan vegetasi disekitar tanaman jagung tersebut tidak
diambil.
Terlihat bahwa berat total biomassa pada alang-alang jauh lebih besar daripada vegetasi yang lain, diikuti oleh lahan peternakan,kebun teh, hutan
sekunder,lahan DDA dan lahan bekas sawah. Hal ini tidak sesuai dengan literature karena alang-alang ini merupakan
lahan yang marginal yang sebagian besar terdapat pada tanah ultisol dengan tingkat
kesuburan yang rendah, tanpa masukan yang tinggi. Biasanya lahan alang-alang
ini merupakan lahan yang tertinggal yang tidak terurus. Menurut litetatur
kandungan bahan organic berkurang pada lahan alang-alang yang pernah terbakar,
Namun dalam praktikum ini tidak diketahui sejarah penggunaa lahannya apakah
lahan pernah terbakar atau telah pernah dilakukan reklamasi lahan atau tidak
karena reklamasi lahan ini dapat meningkatkan mikroorganisme tanah, Hal ini disebabkan karena bahan organik pada
lahan yang direklamasi lebih tinggi sehingga dapat men-jadi sumber energi bagi
mikroorganisme tanah. Kandungan bahan
organik pada lahan yang di-reklamasi cenderung meningkat dan tetap dapat
dipertahankan karena adanya penambahan bahan organik secara
teratur setiap musim tanam, karena total mikroorganisme tanah pada alang-alang lebih banyak daripada
hutan sekunder dan lahan bekas sawah. Seharusnya biomassa pada hutan sekunder
lebih tinggi karena pada hutan sekunder dekomposisi bahan organic sangat
intensif terjadi. Namun dari literatur menyatakan bahwa meskipun lahan yang
ditumbuhi alang-alang memiliki sifat fisika,kimia dan biologi tanah yang buruk
namun jika lahan tersebut diberakan lebih dari 10 tahun diduga kandungan bahan
organic yang ada telah cukup untuk mendukung perbaikan sifat-sifat fisik,kimia
dan biologi dari tanah tersebut. Untuk itu diperlukan system pengolahan yang
tepat yaitu melalui pengolahan lahan yang intensif,karena dengan pengelolaan
tanah yang intensif tanah menjadi gembur dan bahan organic meningkat, namun
dari berbagai penelitian yang dilakukan system olah tanah yang intensif
menyebabkan biodiversitas makrofauna tanah semakin menurun karena dapat
menyebabkan lahan terdegradasi. Penelitian lain menunjukkan bahwa berkurangnya
populasi cacing tanah sering ditemukan pada pengolahan tanah yang intensif
karena adanya perubahan lingkungan tanah yang tidak diinginkan sebagai dampak
pengolahan lahan yang berlebihan(Chan,2001). Dan dalam praktikum juga
didapatkan bahwa organism makrofauna yang ada pada lahan alang-alang hanya
sedikit meskipun biomassa vegetasi dan serasahnya banyak.
Namun
alang-alang juga bisa tumbuh dilahan yang subur, tidak selalu di lahan yang
marginal. Pada praktikum di dapatkan pH tanah pada alang-alang 6,21, rasio C/N
15,37, C organic 4,15% dan N Total 0,27%. Tingginya rasio C:N
pada lahan ini
dibandingkan dengan lahan yang lain mencerminkan kualitas substrat yang
terurai relatif rendah, karena kualitas substrat yang rendah mencerminkan laju respirasi yang
rendah pula. Laju dekomposisi
sisa tanaman
sangat dipengaruhi oleh
kandungan nitrogen dalam jaringan tanaman dimana senyawa protein yang kaya nitrogen akan mudah
terdekomposisi.
Protein akan
terdekomposisi membentuk asam amino. Rasio C/N
yang tinggi berarti kadar Nitrogennya rendah dan kadar Karbonnya yang tinggi. N
merupakan unsur pembentuk protein sedangkan Karbon merupakan unsure pembentuk
karbohidrat, protein merupakan media pembiakan bakteri yaitu media NA, sedangkan karbohidrat merupakan
media pembiakan jamur yaitu PDA,
sehingga jika kadar C/N tinggi, maka organism dalam tanah tersebut banyak
didominasi oleh jamur, sedangkan bakterinya sedikit
sehingga penguraian bahan organic juga rendah karena penguraian bahan organic dilakukan
oleh bakteri. Laju
metabolisme yang menggunakan asam amino tergantung
pada
rasio C:N dalam jaringan tanaman. Jika rasio C:N yang
tersedia lebih besar dari 25, semua
asam amino akan dimanfaatkan oleh dekomposer, dan asam amino akan
dimineralisasi membentuk
amoniak, dan kemudian
amoniak akan
ternitrifikasi
membentuk nitrat (Barchia, 2009).
Produktivitas
serasah penting diketahui dalam hubungannya dengan pemindahan energi dan
unsur-unsur hara dari suatu ekosistem. Adanya suplai hara berasal dari daun,
buah, ranting, dan bunga yang banyak mengandung hara mineral akan dapat
memperkaya tanah dengan membebaskan sejumlah mineral melalui dekomposisi
(Datmanto 2003). Serasah atau biomassa tanaman menjadi sumber makanan bagi
organisme yang menjadi konsumen utama, begitu seterusnya hingga menjadi humus.
Sehingga semakin banyak jumlah total serasah dalam suatu luasan lahan, maka
semakin banyak pula sumber makanan untuk nutrisi pertumbuhan dan perkembangan
fauna tanah. Hardjowigeno (2007) menjelaskan bahwa suatu perubahan bahan
organik kasar menjadi humus hanya terjadi karena adanya organisme hidup di
dalam atau diatas tanah dan saling berhubungan satu sama lain dengan lingkungan
dalam pem bentukan humus tumbuhan yang merupakan produsen utama.
Pada lahan peternakan
terdapat 40 organisme yang didominasi oleh semut dan cacing. Biomassa serasah
dan vegetasi 294,3 g, rasio C/N 7,66, C organic 4,06% dan N total 0,53%. Pada
lahan peternakan terdapat sisa-sisa kotoran yang bisa diajdikan kompos untuk
penambahan unsure hara pada tanaman.
Berupa unsure N,P dan K. pengomposan merupakan bahan organic terjadi
secara biologis pada suhu yang tinggi dengan menghasilkan output yang cukup
bagus untuk digunakan ketanah tanpa merugikan lingkungan. Prinsip pengomposan
yaitu menurunkan
nilai C/N rasio hingga sama dengan nilai C/N rasio tanah yaitu 10-12 atau
kurang dari 20. Pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan bantuan
aktivator atau decomposer.
(Suwardi,
2004).
Penambahan urea dapat
meningkatkan kandungan nitrogen dan menurunkan C/N rasio hingga mendekati C/N
rasio tanah yaitu 10-12. Menurut Van Soest (2006), penggunaan urea sebagai
sumber nitrogen bertujuan untuk menekan pertumbuhan jamur serta meningkatkan
kadar nitrogen untuk mensuplai kebutuhan bagi mikroba. Urea bersifat
higroskopis, jika digunakan pada lahan kering dapat meningkatkan kandungan air
yang kurang pada tanah kering (Basriman, 2011).
Menurut Kurniawan
(2012), agar bahan pupuk mengalami mineralisasi yang baik, kandungan N suatu
bahan harus melebihi 1,2%. Apabila rasio C/N terlalu tinggi dan nilai nitrogen
pada bahan dibawah 1,2%, proses pendekomposisian akan berjalan dengan lambat.
Semakin tinggi nitrogen sebagai faktor pembanding C-organik, mengakibatkan
nilai dari C/N rasio semakin kecil. Menurut Nuryani dkk. (2002), tujuan dari
pengomposan adalah menurunkan nilai C/N rasio mendekati nilai C/N rasio tanah
yaitu 10-12, agar pupuk dapat bekerja secara optimal. Sedangkan N yang didapatkan pada saat praktikum yaitu
0,53%, dekomposisi berjalan lambat jika rasio C/N tinggi karena kadar
Nitrogennya rendah,yang berfungsi sebagai media tumbuh jamur dan unsure
penyusun protein. Jika jumlah jamur yang ada sedikit maka media unutk tumbuh
jamur juga sedikit,dan jamur ini berfungsi untuk decomposer dan jika jumlahnya
sedikit maka decomposer juga akan berjalan lambat.
Organism yang ada yaitu 40, dan di
lahan peternakan ini lebih banyak dengan yang lainnya dan organism yang
didapatkan juga bermacam-macam, hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal dimana pH
tanah juga sangat berpengaruh pada ekologi hewan makrofauna tanah,karena
keberadaan dan keadatan hewan tanah sangat tergantung pada pH tanah, hewan
tanah ada yang dapat hidup pada pH rendah dan ada yang hidup pada pH tinggi.
Pada lahan peternakan tersebut di dapatkan pH 4,88. Nilai pH tanah ini bisa
dikaitkan dengan bahan organik tanah. Dekomposisi bahan organik cenderung
cenderung meningkatkan keasaman tanah akibat asam-asam organik yang dihasilkan.
Dekomosisi bahan organik tanah tersebut dilakukan oleh mikroorganisme,sekresi
akar,atau oksidasi bahan organik. Fauna tanah memainkan peranan penting dalam dekomposisi residu nabati dari
aktivitas hewan dan organisme yaitu melalui fragmentasi bahan organik tanah.
Daya
dukung kehidupan organisme di tanah berkaitan dengan vegetasi di tanah terebut,
semakin banyak vegetasi maka semakin banyak pula organisme yang ditemukan di
tanah, dan jenis tumbuhan yang beragam memberikan suplai makanan bagi
makrofauna tanah. Keragaman makrofauna tanah juga sangat berpengaruh, dan
ditemukan keragaman organisme lebih banyak ditemukan pada lahan peternakan
dibandingkan dengan yang lainnya, dari hal ini dapat disimpulkan bahwa
keragaman vegetasi juga sangat beragam di lahan peternakan. Jumlah semut yang
paling banyak dilahan peternakan ini, menurut Borror, Dkk menyatakan bahwa semut adalah kelompok yang sangat
umum dan menyebar luas di habitat darat. Semut merupakan jumlah dan jenis
populasi yang sangat berlimpah, dalam praktikum ditemukan 2 jenis semut yaitu
semut hitam dan semut merah. Laba-laba juga ada namun populasinya sangat
rendah.
Menurut
literatur, Keberadaan makrofauna tanah juga sangat dipengaruhi oleh pH dimana
peningkatan pH akan meningkatkan keragaman makrofauna tanah,begitu juga
sebaliknya namun dalam praktikum didapatkan pH yang masam, dan hal ini sesuai dengan literatur tersebut karena
organisme yang didapatkan sangat banyak jumlahnya dan sangat beragam.
Dilingkungan tropis dimana tanah telah asam untuk jangka waktu yang panjang,
fauna tanah telah berevolus toleransi terhadap pH yang rendah. Sebagian besar
makrofauna termasuk spesies penggali seperti cacing dan rayap cenderung menurun
kelimpahannya dalam jumlah besar dikondisi tanah asam,dengan aktivitas yang
paling terbatas pada lapisan sampah dimana pH biasanya secara signifikan lebih
tinggi dan biasanya alkali.
Cacing
tanah dapat dikelompokkan jenisnya menurut pH tanah. Cacing tanah hanya dapat
hidup pada tanah asam disebut bertoleransi terhadap asam,yang tidak dapat hidup
pada tanah asam disebut tidak toleran terhadap
asam, sedangkan yang dapat hidup pada tanah asam dan netral disebut
tidak berpengaruh terhadap keasaman tanah. Di praktikum yang dilaksanakan
jumlah cacing tanah agak banyak sedangkan pH tanah rendah atau asam, maka dapat
disimpulkan bahwa cacing yang ada di lahan peternakan adalah cacing yang
toleran terhada asam.
Bahan
organik juga sangat berpengaruh terhadap keragaman makrofauna tanah dimana
peningkatan bahan organik akan menigkatkan keragaman makrofauna tanah. Korelasi
antara bahan organik dengan keragaman makrofauna tanah berkorelasi
positif,dimana makrofauna tanah ini membantu dalam meningkatkan dekomposisi
residu organik, walaupun perannya tergantung pada sifat material dalam
tubuhnya. Semakin banyak bahan organik yang tersedia maka jumlah individu
makrofauna tanah akan semakin bertambah, karena mampu melindungi dari tekanan
lingkungan baik tingginya suhu lingkungan maupun adanya predator. Penelitian
Tim Sintesis Kebijakan (2008) menyatakan makrofauna tanah mengambil nutrisi
dari bahan organik tanah, sehingga ketersediaan bahan organik tanah yang cukup
akanmmemepengaruhi keberlangsungan kehidupan makrofauna tanah.
Jumlah
jenis vegetasi juga sangat dimana peningkatan jumlah jenis vegetasi akan
menurunkan keragaman makrofauna permukaan tanah, namun akan meningkatkan
keragaman makrofauna yang ada di dalam tanah. Jumlah jenis vegetasi yang tinggi
dapat dihubungkan dengan ketersediaan nutrisi bagi marofauna tanah,semakin
banyak tersedia makanan, maka semakin banyak pula makrofauna yang eksis di
habitat tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat kolerasi antara jumlah
jenis vegetasi dengan keragaman makrofaunta tanah, berkorelasi positif untuk
makrofauna dalam tanah dan berkorelasi negatif untuk makrofauna permukaan
tanah. Dalam praktikum yang dilaksanakan ada 2 metode yang dilakukan untuk
mengidentifikasi organisme tanah yaitu hand sorting untuk melihat organisme di
permukaan tanah dan metode corong untuk melihat organisme yang ada didalam
tanah. Dapat dilihat bahwa keragaman makrofauna di permukaa tanah dengan yang
di dalam tanah seimbang dan juga ada jenis yang tidak diketahui pada metode
corong. Dapat disimpulkan bahwa jumlah jenis vegetasi pada lahan peternakan
sangat beragam sehingga keragaman makrofaunanya juga sangat banyak.
Pada
lahan teh didapatkan biomassa 254,7 g, 32 organisme tanah, rasio C/N 1,85 pH
4.41, C organik 0,24% dan N total 0,13%. Hal ini sesuai dengan
literatur-literatur sebelumnya dimana organisme yangdidapatkan 32 dan juga
dipengaruhi oleh pH dan bahan organik
tanah dimana dekomposisi bahan organik akan meningkatkan keasaman pH akibat
adanya asam organik. Vegetasi tanah juga berpengaruh seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya, dan makrofauna yang didapatkan juga banyak dan
berbanding lurus dengan biomassa yang didapatkan. Namun jenis yang di dapatkan
hanya cacing semut dan kutu, dapat disimpulkan bahwa jumlah jenis vegetasi di
kebun teh sedikit sehingga keragaman makrofaunanya juga sedikit.
pH yang didapatkan pada
kebun teh ini juga rendah atau asam hal ini juga sesuai dengan literatur,dimana
jika pH asam organisme yang didapatkan juga banyak.
Rasio C/N yang
didapatkan rendah jikan dibandingkan dengan lahan yang sebelumnya, hal ini
menunjukkan bahwa mikroorganisme bakteri yang ada dikebun teh ini lebih banyak
dibandingkan dengan jamur seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dimana
jamur ini berperan dalam dekomposisi bahan organik.
Kadar N ini dipengaruhi
oleh karena pada lahan teh yang dipanen pada teh tersebut yang dipanen adalah
daunnya sehingga kadar N dari tanah ini berkurag dan dilakukan pebambahan unsur
hara N melalui pemupukan, itulah yang menyebabkan kadar N dari tanah ini
tinggi.
Orgnisme yang
didapatkan didominasi oleh cacing dan
cacing ini merupakan cacing yang toleran terhadap pH rendah atau masam karena
pH pada kebun teh ini asam.
Kemudian pada lahan DDA
didapatkan biomassa 7,75 g, organisme 35 yang didominasi oleh cacing, pH 4,71,
rasio C/N 1,12, C organik 1,75% dan N total 1,56%. Biomassa pada lahan ini
rendah karena dalam praktikum yang diambil hanya serasah, sedangkan vegetasinya
tidak diambil karena lahan tersebut merupakan lahan praktikum jagung yang
berumur 2 minggu sehingga vegetasinya tidak boleh diambil,organisme yang
didapatkan di dominasi oleh cacing dan pH yang asam. Dan cacing ini merupakan
cacing yang toleran terhadap pH asam. Rasio C/N yang rendah berarti jamur lebih
mendominasi pada lahan DDA ini.
Sedangkan pada lahan
bekas sawah yang ditanami jagung didapatkan biomassa 9 g, organisme 7, pH tanah
6,06, rasio C/N 1,84, C organik 0,24% dan N total 0,13%. Biomassa pada lahan
ini rendah karena yang dilihat hanya berat
1 tanaman jagung, organisme yangdidaptkkan juga sedikit. Organisme yang
terdapat pada lahan bekas sawah ini
sedikit karena biomassa yang ada juga sedikit sehingga organisme yang
ada tidak mempunyai suplai makanan yang cukup. Dan vegetasi yang ada juga hanya
sedikit karena lahan ini merupakan lahan dengan sistem pertanian monokultur
sehingga jenis vegetasi yang ada juga sedikit. pH tanah pada lahan ini
tergolong netral, hal ini sangat berpengaruh pada ddekomposisi bahan organik,
dimana pH asam akan menigkatkan dekomposisi, dilihat dari pH dapat disimpulkan bahwa
dekomposisi bahan organik pada lahan bekas sawah ini rendah. Kebun pH juga
sangat berpengaruh pada mikroorganisme yang ada dimana jika pH asam organisme
yang didapat banyak, dan hal ini juga sesuai dengan literatur karena pH pada
tanah ini mendekati netral dan organisme juga sedikit.
Pada lahan bekas sawah
ini didapatkan cacing, disimpulkan bahwa cacing ini merupakan cacing yang tidak
berpengaruh pada keasaman tanah karena dapat hidup pada pH mendekati netral.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum
yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa kepadatan organisme sangat
ditentukan oleh faktor lingkungan dan faktor dari tanh tersebut. Diantaranya
bahan organik, dimana jika semakin tinggi bahan organik maka organisme tanah
juga akan semakin tinggi. Yang kedua adalah pH tanah, jika pH tanah semakin
asam maka organisme akan semakin banyak, pH tanah juga sangat berkaitan dengan
dekomposisi bahan organik karena dekomposisi bahan organik akan menghasikan
asam-asam organik. Vegetasi tanah juga sangata berpengaruh terhadap kapadatan
organisme, semakin banyak vegetasi maka semakin banyak pula organisme yang
ditemukan di tanah, dan jenis tumbuhan yang beragam memberikan suplai makanan
bagi makrofauna tanah.
Cacing tanah dapat
dikelompokkan jenisnya menurut pH tanah. Cacing tanah hanya dapat hidup pada
tanah asam disebut bertoleransi terhadap asam,yang tidak dapat hidup pada tanah
asam disebut tidak toleran terhadap
asam, sedangkan yang dapat hidup pada tanah asam dan netral disebut
tidak berpengaruh terhadap keasaman tanah. Di praktikum yang dilaksanakan
jumlah cacing tanah agak banyak sedangkan pH tanah rendah atau asam, maka dapat
disimpulkan bahwa cacing yang ada di lahan peternakan adalah cacing yang
toleran terhadap asam.
Rasio C/N menunjukkan
perbandingan antara C organik dan N total, dimana C ini merupakan unsur
penyusun karbohidrat, dan N merupakan unsur penyusun protein, karbohidrat
merupakan suplai makanan jamur, dan protein merupakan suplai makanan bakteri
jika C/N tinggi maka ekologi dari tanah didominasi oleh jamur.
DAFTAR
PUSTAKA
Aflizar,
Z. 2003. Serasah dan karakteristik
fisika dan unsur hara tanah
hutan hujan
tropik super basah, Pinang-Pinang. Tesis
Program Pascasarjana
Universitas
Andalas.
Aninomous.2010.Ekologi
Tanaman.Erlangga:Jakarta
Anderson,
D.W.
(1998). The effect of parent
material and soil development on nutreient cycling in temperate ecosystem, Biogeochemistry 5:
71-97.
Catterson.1994.forest
ecology and flora of west sumatera.Biogeochemistry
Departemen
kehutanan.1989.ekolog hutan sekunder. Bogor:departemen kehutanan
Fao.1986.
The effect of material and soil developtment on
nutrientcycling.Biogeochemistry.
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku
Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halamanHeddy.1986.
ekologi tanah.serasah dan karakteristik
kimia hutan sekunder. Grafindo:surabaya
Greigh,Smith.1983.Litters og
mulipurpose tree.Kerala:Hindia
Hermansah.2003.Dynamics Of litter
production and its quality in relation to climnatic factors in asuperwet tropical
rain forest.West sumatera:Indonesia
Hole FD, Mc-Cracken RJ. 1981. Soil
Genesis Classification. Iowa: Iowa State University Press.
Hotta, M. 1984. Forest ecology and
Flora of G.
Gadut,
West
Sumatra, 220 pp.Sumatra Nature Study (Botany),
Kyoto
University, Kyoto.1986.
Diversity and Dynamics
of Plant Life in Sumatra, Part 2. 128
pp.
Indriyanto.2006.Kebun
Percobaan Fakultas Pertanian Unand di Limaumanis dan Lingkungannya. Stasiun
Penelitian Fakultas Pertanian Unand. Payakumbuh. 16 Hal.
Jamaludheen, V. dan B.M
Kumar. 1998. Litter of multipurpose trees
in Kerala, India;variation
in the amount, quality,
decay rates
and release of nutrients.
Journal of Forest
Ecology and Management.
Kubota, D., Masunaga,
T. Hermansah, Hotta,M., Shinmura, Y. and Wakatsuki. T.2000. Soil quality characterization in
relation in relation to tree species
diversity in tropical rain
forest,
West
Sumatra Indonesia I. Comparison of
two1-ha plots. Tropics
9(2): 133-145.
Lampretch.1986.Soil ang Plant
Ecology. Oxford Unniversity. Beverly Hills
Marsono.1977.Potensi alang-alang
untuk pertanian.Gramedia:medan
Masunaga, T. Kubota,
D., Hotta, M. and Wakatsuki, T. 1998. Nutrition characteristics of
mineral elements in
leaves tree speceis
in tropical rain forest, West Sumatra, Indonesia.
Soil
Sci. Plant Nutr. 44 (3); 315-329.
Odum. E. 1993. Dasar-Dasar
Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.
Spoor.1980.forest ecology.kreiger
Publishing Company Florida.
Soedarsono.1981.Mikrobiologi
tanah.departemen mikobiologi, fakultas
pertanian Universitas Gadjah Mada:Yogyakarta
Sumatra Nature Study (Botany), Kyoto
University, Kyot.1989. Diversity and
Plant Animal Interaction in Equatorial Rain Forest,302
pp. Sumatra Nature Study (Botany). Kagoshima University, Kagoshima.
Soedarsono, J.
1981. Mikrobiologi Tanah. Departemen Mikrobiologi FakultasPertanian
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sundarapandian,
S.M., P.S.Swamy.1999. Litter Production
and leaf littedecomposition of selected
tree species in tropical forest at Kodayar in the
Spurr,
S.H. dan Burton V.B.
1980. Forest ecology (third
edition).
Krieger
Publishing Company. Florida.
687p.
Wakatsuki, T., Saidi, A. dan
Rasyidin, A. 1986. Soils of the toposequences of the
G. Gadut
tropical rain forest, West Sumatra, Southern
Asian Studies.24.243-262.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan
Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor
LAMPIRAN
Kriteria Penilaian Sifat Kimia
Tanah
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
C/N
|
>5
|
5-10
|
11-15
|
16-25
|
>25
|
---
|
|||||||||||||||||||
|
P-Total
(25 %-HCL)
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
C-ORGANIK
|
Sifat
kimia
|
Rendah
|
Sedang
|
Tinggi
|
Sangat
tinggi
|
|||
|
C-organik(%)
|
<1
|
1-2
|
2,01-3
|
3,01-5
|
>5
|
||
Tabel Nilai dan Kriteria N dalam
Tanah yang Berdasarkan Standar Internasional (SI)
|
Nilai N-Total
|
Kriteria N-Total
|
|
< 0,1
0,1 – 0,21
0,22 – 0,51
0,52 – 0,75
> 0,75
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
|
